Rabu, 29 Oktober 2014

Ciri-ciri, Watak, Karakteristik, Sikap, dan Sifat Seorang Wirausahawan

·         Ciri-ciri dan Watak Wirausahawan :
1.      Percaya diri keyakinan, ketidaktergantungan individualitas & optimism.
2.      Berorientasi pada tugas dan hasil kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, tekun & tabah, tekad keras, energik & inisiatif.
3.      Pengambilan resiko atau suka tantangan.
4.      Berjiwa kepemimpinan.
5.      Keorisinilan inovatif & kreatif serta flexible.
6.      Berorientasi ke masa depan.

·         Ada 8 Karakteristik Wirausahawan :
1.      Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
2.      Lebih memilih resiko yang moderat.
3.      Percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil.
4.      Selalu menghendaki umpan balik yang segera.
5.      Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan.
6.      Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
7.      Memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah.
8.      Selalu menilai prestasi dengan uang.

·         Sikap Wirausahawan :
1.      Technical competence
2.      Mental ability
3.      Opportunity orientation
4.      Inisiative and responbility
5.      Integrity and realibity
6.      Tolerance for failure
7.      Internal locus of control
8.      Human relations skills
9.      High achievement drive
10.  Creativity

·         Sifat yang dimiliki Wirausahawan :
1.      Percaya diri
Karakteristik kematangan seseorang adalah ia tidak tergantung pada orang lain, dia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, obyektif dan kritis. Dia tidak begitu saja menyerap pendapat atau opini orang lain, tetapi ia mempertimbangkan secara kritis. Emosionalnya boleh dikatakan sudah stabil, tidak gampang tersinggung dan naik pitam. Juga tingkat sosialnya tinggi, mau menolong orang lain, dan yang paling tinggi ialah kedekatannya dengan khaliq sang pencipta. Diharapkan wirausahawan seperti ini betul-betul dapat menjalankan usahanya secara mandiri, jujur, dan disenangi oleh semua relasinya.
2.      Berorientasi pada Tugas dan Hasil
Orang ini tidak mengutamakan pretise dulu, prestasi kemudian. Akan tetapi, ia gandrung pada prestasi baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan naik. Anak muda yang selalu memikirkan prestise lebih dulu dan prestasi kemudian, tidak akan mengalami kemajuan. Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha menyingkirkan prestise. Kita akan mampu bekerja keras, enerjik, tanpa malu dilihat teman, asal yang kita kerjakan itu pekerjaan halal.
3.      Pengambilan Resiko
Dalam wirausaha penuh dengan tantangan dan resiko, seperti persaingan, harga turun naik, barang tidak laku dan sebagainya. Namun semua tantangan ini harus dihadapi dengan penuh perhitungan. Jika perhitungan sudah matang, membuat pertimbangan dari segala macam segi, maka berjalanlahterus dengan tidak lupa berlindung kepada-Nya.
4.      Kepemimpinan
Kepemimpinan memang ada dalam diri masing-masing individu. Namun sekarang ini, sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih. Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi atau orang yang ia pimpin. Pemimpin yang baik harus mau menerima kritik dari bawahan, ia harus bersifat responsif.
5.      Keorisinilan
Orisinil ini tentu tidak selalu ada pada diri seseorang. Yang dimaksud orisinil disini ialah ia tidak hanya mengekor pada orang lain, tetapi memiliki pendapat sendiri, ada ide yang orisinil, ada kemampuan untuk melaksanakan sesuatu. Bobot kreativitas orisinil suatu produk akan tampak sejauh manakah ia berbeda dari apa yang sudah ada sebelumnya. Keorisinilan seorang wirausaha menuntut adanya kreativitas dalam pelaksanaan tugasnya. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru. Bagi kalangan wirausaha, tingkat kreativitas ini akan sangat menunjang kemajuan bisnisnya.
6.      Sifat Jujur
Sifat jujur akan membawa kepercayaan kepada rekan usaha dan masyarakat sehingga proses dalam berwirausaha akan mudah mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sifat jujur juga akan membawa berkah bagi usaha berwirausaha karena sifat yang tidak jujur atau curang akan membawa kecelakaan.
7.      Sifat Cerdas
Cerdas atau pintar atau tajam pemikiran. Sifat ini sudah dimiliki pada semua orang walaupun kapasitasnya berbeda-beda dan sifat ini dapat dikembangkan atau ditingkatkan. Kecerdasan yang dikenal saat ini ada tigas yaitu, cerdas emosional, intelektual, dan spiritual.



Kamis, 29 Mei 2014

TINJAUAN UMUM HUKUM ATAS KEJAHATAN ASUSILA TERHADAP ANAK DI BAWAH UMUM

Nama: Erna Nur Elihidayah
NPM: 52213949
Kelas: 1DF02


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku syok dengan maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di Tanah Air.
Hal itu diungkapkan SBY saat mempimpin rapat cabinet terbatas dikantornya, Kamis (8/5/2014). “Kita semua dikejutkaan dengan kejadian yang tentu membuat kita semua marah, syok, dan berbagai reaksi yang memang patut kalau itu terjadi. Yaitu kejadian kekerasan seksual terhadap anak,” ujar Presiden SBY.

Menurut SBY, kasus kekerasan seksual terhadap anak merupakan sesuatu hal yang sangat serius. “Seperti yang saya sampaikan saat pertama kali saya dengar insiden itu disebuah sekolah internasional di Jakarta,” tuturnya.

Dia mengatakan, kasus kekerasan seksual terhadap anak tidak boleh dianggap biasa saja. “Ini masalah serius, tidak boleh dianggap biasa saja,” katanya. Pemberatan hukuman dengan pengebirian suntikan kimia bagi pelaku dewasa kekerasan seksual pada anak dinilai tak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Hal ini dinilai pantas, karena efek dari kekerasan seksual yang dialami anak-anak akan dirasakan seumur hidup.

Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, pengebirian suntikan kimia merupakan pemberatan hokum. Hal ini dirasakan, karena Undang-Undang (UU) No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang memberikan hukuman maksimal 15 tahun tidak berjalan efektif.

Kejahatan seksual yang melanggar hak-hak anak mungkin tak sepenuhnya tanggung jawab pelaku. Negara, keluarga, orang tua, sekolah, dan masyarakat juga punya tanggung jawab yang sama. Penjatuhan hukuman berat merupakan bentuk lepas tangan negara dan masyarakat yang membuat penjahat seksual leluasa mencari mangsa.

Karena itu, hukuman berat bagi pelaku saja juga tidak cukup. Hukuman juga harus memberikan efek jera panjang pada pelaku dan mendorong upaya pencegahan, baik oleh Negara maupun masyarakat, agar kejahatan serupa tak berulang. Tak komprehensif.
Nur mengatakan, rehabilitasi terhadap korban bisa menjadi alat yang efektif untuk memotong rantai kekerasan seksual di masyarakat. Tahap ini bukan hanya menjadi domain psikiater atau psikolog, melainkan orangtua yang lebih banyak waktu berinteraksi dengan anak punya andil paling besar.

Masyarakat dan Negara pun bertanggung jawab menciptakan lingkungan ramah anak. Nyatanya sehari-hari, anak-anak justru terpapar kekerasan verbal, emosional, fisik, dan seksual, termasuk dari lingkungan sekitar. “Lingkungan penuh kekerasan hanya akan melahirkan generasi yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan pula,” tambah Nalini.

Banyak contoh yang dapat kita ambil dari nilai-nilai pancasila salah satunya sila ke-2. Di Indonesia saat ini banyak terjadi kasus asusila yang terjadi dan korbannya adalah para remaja. Canggihnya teknologi saat ini seperti jejaring social (facebook) digunakan orang-orang jahat untuk bisa melakukan asusila seperti pemerkosaan, pencabulan, dan lainnya, yang berdampak penyesalan dikemudian hari. Maka dari itu mulailah kita waspada dan menjaga diri kita agar tidak menjadi korban asusila. Menjauhkan pergaulan bebas, adalah salah satu kita terhindar dari perbuatan yang tidak benar dan tidak merugikan diri kita sendiri.

UU NO.23 TAHUN 2002
TENTANG PERLINDUNGAN ANAK
Ketentuan umum
Pasal 1 – (2) Perlindungan anak adalah kegiatan untuk menjamin dan melindungi haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi sesuai dengan harkat dan martabat serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
(15) Perlindungan khusus adalah perlindungan diberikan kepada anak dalam situasi darurat anak yang berhadapan dengan kelompok minoritas dan terisotasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alcohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan, perdagangan kekerasan baik fisik atau anak yang menyandang cacat, dan anak korban salah perlakuan dan penerlantaran.

HAK DAN KEWAJIBAN ANAK

Pasal 4 – Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dan kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 8 – Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan social sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan social.
Pasal 9 – (1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. (2) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi anak penyandang cacatjuga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus.
Pasal 10 – Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan. [2]
Pasal 10 – Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.
Pasal 12 – setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan social, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan social.


Sumber            :

Selasa, 07 Januari 2014

Cerpen "Hantu di Pohon Mangga"

          “Nanti malam, Ayah dan Ibu akan pergi ke resepsi pernikahan teman Ayah di Sukabumi,” kata Ayah pagi itu.
       “Berarti aku sendiri saja di rumah?” tanya Toro. Terbayang sudah ia akan ketakutan sendirian. Dery dan Rohman selalu bercerita bahwa mereka sering melihat hantu di pohon mangga miliknya. Cerita mereka begitu meyakinkan sampai membuat bulu kuduk Toro berdiri.
          “Ya. Kamu belajar saja di rumah. Besok kan, bukan hari libur,” kata Ayah.
          “Jam berapa Ayah pulang?”
       “Sekitar jam satu, karena jalan ke Sukabumi banyak yang diperbaiki. Sering macet.”
      Sendirian saja di rumah sampai jam satu malam, alangkah lamanya. Toro mendesah sendiri. Ia merasa tidak akan bisa tidur nyenyak. Hatinya tidak tenang. Pikirannya pasti akan tertuju pada hantu yang ada di pohon mangga. Bagaimana kalau hantu di pohon mangga itu masuk ke rumah? Pada siapa ia akan berteriak minta tolong?
          Pernah Toro mengusulkan agar pohon mangga di depan rumah itu ditebang saja. Namun Ayah tidak setuju. Pohon mangga itu memang rindang, hingga membuat halaman rumah ikut teduh. Belum lagi kalau pas berbuah, buahnya orange kemerah-merahan, rasanya manis, dan dagingnya tebal.
          “Jangan mudah menebang pohon, Toro. Pohon itu sangat bermanfaat buat kita. Malah perlu kita rawat dengan baik. Eh, mengapa kamu mengusulkan pohon mangga itu ditebang? Ada apa Toro?” tanya Ayah waktu itu.
          Tentu saja Toro tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya. Ayah akan menertawakannya kalau ia bilang pohon itu ada hantunya.
          Teman-teman yang sering lewat di depan rumah Toro, pernah melarang Toro keluar malam. Kata mereka, hantu di pohon mangga Toro itu sangat seram.
          Malamnya, jam tujuh Ayah dan Ibu siap-siap berangkat.
          “Hati-hati menjaga rumah, ya, Toro,” pesan Ayah.
        “Kalau ada orang yang mencurigakan, jangan dibukakan pintu,” Ibu menasihati.
         Begitu Ayah dan Ibu pergi, Toro buru-buru menutup gerbang pagar rumahya. Ia segera berlari ketika melewati pohon mangga yang ada di depan rumah. Jangankan menatap ke atas, ketika melewatinya saja, bulu kuduk Toro sudah merinding. Toro menutup pintu-pintu rumah tergesa-gesa.
       Masih sekitar lima jam lagi menunggu Ayah dan Ibu pulang. Toro menatap jarum jam yang pelan sekali bergerak.
          Toro ingin belajar, namun ia tidak bisa berkonsentrasi. Hantu pohon mangga selalu bermunculan di kepalanya.
       Pletok! Jantung Toro seperti berhenti berdetak. Bunyi mangga yang jatuh mengenai batu, jelas terdengar.
         Pasti hantu itu yang menggoyangkan pohon. Pikiran buruk terus bermunculan di kepala Toro. Semoga hantu itu kekenyangan makan buah mangga dan tidak turun ke rumah ini.
Tetapi sebentar! Adakah hantu yang suka makan mangga? Jangan-jangan… Toro jadi curiga. Ia jadi penasaran bercampur takut.
“Aku harus berani! Aku harus melawan hantu!” bisik Toro kemudian, memberanikan dirinya.
Perlahan, Toro melangkah menuju gudang. Ia mengambil ketapel dan senter besar. Toro lalu naik ke lantai dua rumahnya, mencari tempat yang tersembunyi. Sekarang, ia akan memberi kejutan pada hantu pohon mangga itu.
Bulan tampak keluar sedikit di balik awan. Toro mengatur detak nafasnya. Dari balik kaca jendela, ia melihat dua tubuh kecil mendekati pohon mangganya. Mereka celingukan sejenak. Lalu dengan lincah memanjat pohon mangganya.
Oh, itu hantunya…gumam Toro. Keberaniannya semakin menguat. Dengan sabar ia menunggu kedua hantu itu naik. Sampai akhirnya, posisi hantu itu sejajar dengan dirinya.
Toro sengaja sudah mematikan lampu di tempat ia sembunyi. Kini ia dengan leluasa bisa melihat aksi dua hantu itu. Mereka mengambil mangga dan memasukkannya ke dalam plastic.
Ketika asyik mengumpulkan mangga itu, dengan cepat Toro membuka jendela dan mengarahkan senter besar kea rah mereka. Tampak kedua hantu itu memakai penutup sarung putih.
Keduanya terkejut melihat cahaya senter terarah ke diri mereka. Plastic berisi mangga sampai terjatuh.
“Heeeii, hantu! Rasakan ketapelku. Bisa membuat kepala kalian bengkak,” ancam Toro.
“Ampuuun, Toro,” seru salah satu hantu.
Toro mengenal baik suara hantu itu. Itu suara Dery, temannya bermain sepak bola.
“Ampuuun, Toro,” seru hantu yang satunya lagi. Ah, suara serak itu, pasti milik Rohman, piker Toro.
“Jadi kalian menakut-nakuti aku supaya bisa mengambil manggaku, ya?” seru Toro geli.
“Maaf ya, Toro,” kata mereka berbarengan.
“Lekas turun dari pohon! Kalau ingin mangga, ayo kita makan mangga sama-sama,” ajak Toro.
Dua hantu itu menurut. Mereka pun berpesta mangga yang manis, di malam itu.


****




Oleh  :         Dwiyanto

Cerpen "Meraih Hati Adel"

Mata Yopi, Emon, dan Fandy langsung silau saat melihat pemandangan baru di sekolah mereka. Ada cewek manis sedang ngobrol dengan teman-temannya di kantin.
            “Pasti dia anak baru,” tebak Yopi.
        “Sepertinya begitu, cewek cakep mana sih yang nggak ketangkep sama mata kita?” sahut Emon yang punya nama asli Reza tetapi dipanggil Emon karena mirip Doraemon. Kepalanya bulat, rambut depannya lurus membentuk poni yang merata di dahi, badannya juga gemuk dan pendek.
            “Ternyata dia yang disebut-sebut jiplakannya Gita Gutawa,” kata Fandy.
            Yopi dan Emon langsung memberondong Fandy.
        “Kamu udah tahu tentang dia? Siapa namanya? Kelas berapa? Rumahnya di mana? Udah punya cowok belum?”
            “Aku emang udah dengar beberapa informasi tentang Adelia,” kata Fandy.
        “Adel tuh anak berprestasi. Pinter nyanyi, main music, nilai akademiknya juga rata-rata bagus,” jelas Fandy.
            “Wah, sekolah kita mesti selamatan nih. Nggak ada Gita Gutawa yang orisinil, jiplakan pun boleh. Lumayan kan sekolah kita bisa terangkat?” komentar Emon.
            “Kamu saja yang selamatan, traktir kita berdua,” timpal Yopi.
            “Besok kalau Adel udah jadian sama aku.”
        “Ge’er! Paling-paling nanti dia kecantol sama Didan, si ketua Osis. Udah begitu kelasnya bersebelahan lagi,” kata Fandy.
            “Jadi Adel masih jomblo nih?” Tanya Yopi dan Emon.
            “Ya begitulah.”
            “Kita mesti kenalan buat deketin dia. Tapi gimana caranya?” tanya Emon.
            Fandy segera menyahut, “Yang jelas nggak mungkin saat Adel lewat di depan kita terus kita bilang, ‘Adel kenalan yuk!’ Kalimat itu noraknya nggak ketulungan kan?”
            Yopi dan Emon mengangguk setuju.
          “Mending sekarang kita balik ke kelas,” ajak Yopi. “Waktu istirahat hamper habis. Biasanya ide-ideku muncul saat Bu Yana yang suaranya lemah lembut sedang mengajar.”
            Tiga sekawan itu pun berjalan santai menuju kelas.
          “Yopi!” panggil seorang cewek dari belakang. Ketiga cowok itu menoleh dan batin mereka berteriak histeris, “ADEL??!!!”
          Emon dan Fandy buru-buru mencekal Yopi. “Katanya kamu belum tahu apa-apa? Nggak fair!” Emon dan Fandy bertanya gusar.
            “Peace man! Peace!” ucap Yopi menenangkan kedua temannya. “Jangankan kalian, aku saja kaget setengah mati setengah hidup Adel bisa tahu namaku.”
           Yopi lalu berjalan mendekati Adel dengan jantung deg-deg-pyur-byur. Sementara Emon dan Fandy mengikuti.
            “Ada apa?” tanya Yopi.
            “Ini dompetmu jatuh. Aku tahu dari nama yang disulam rapi dimuka dompet. Sebenarnya aku asal manggil, nggak tahunya bener.”
            “Terima kasih.”
            “Jayus ah, menjatuhkan dompet biar bisa ditemukan Adel,” bisik Fandy.
           “Enak saja,” elak Yopi sambil memperlihatkan  saku belakang celana panjangnya. “Kemarin baru sobek separuh, nggak tahunya melebar sendiri.”
            “Sulamannya halus, siapa yang menyulam?” tanya Adel.
            “Mamiku, hadiah ulang tahunku kemarin,” jawab Yopi.
            Sekarang gantian Emon yang berbisik ke telinga Yopi. “Sulamannya kok pakai benang warna pink? Itu cocoknya buat cewek. Norak tahu dompet kayak gitu dibawa-bawa.”
          “Tadinya juga kutolak mentah-mentah, tetapi mami memaksa. Akhirnya kuturuti. Eh, tidak tahunya bawa hoki!”
          “Kalau gitu aku ke kelas dulu, ya?” ujar Adel. Yopi buru-buru mencegah. “Eh, tunggu! Kita kan belum kenalan. Maksud aku, kenalin nih sobat-sobatku, Emon dan Fandy.”
            Adel lalu menyalami kedua sobat Yopi.
            “Kapan-kapan kita boleh main ke rumah, tidak?” tanya Emon.
            “OH, boleh. Boleh banget,” sahut Adel.
          Setelah Adel berlalu, tiga sekawan itu ber-toast gembira. “Aku perhatikan dompet kamu biasa saja. Didalamnya diisi jimat ya?” tanya Emon.
           “Sembarangan! Cuma ada uang seribu perak sama gambar Paris Hilton yang kupotong dari tabloid. Itu doang!”
          Esok hari di sekolah, tiga sekawan tampil beda. Inginnya sih supaya kelihatan lebih cool di depan Adel, tapi….
            “Rambut kamu kan pendek Yop, kenapa pakai gel segala? Jadi seperti landak gitu,” komentar Emon.
            “Tau nih, tiba-tiba aku tidak pede dengan rambutku,” kata Yopi sambil membubarkan ‘duri landak’ di kepalanya.       “Eh aku mau ngomong sesuatu yang penting,” kata Fandy. “Kita bertiga kan sepakat pedekate sama Adel dengan sportif, makanya kita bikin jadwal main kerumahnya. Kita tanya Adel jam berapa dan hari apa dia punya waktu luang. Dalam seminggu kita dapat jatah satu hari buat pedekate sama Adel. So, kita tidak bakal ngecengin Adel dihari yang sama. Setuju tidak?”
            Yopi dan Emon langsung menepuk bahu Fandy tanda setuju.
        “Aku mesti pakai baju apa ya?” gumam Yopi bingung. Dia membuka-buka majalah dan tabloid remaja milik adik perempuannya. Yopi ingin mencontek gaya cowok-cowok beken kayak Samuel Zylgwyn atau Dimas Beck, tetapi dia akhirnya hanya pakai t-shirt warna merah hati dan celana jeans. Kalau terlalu gaya nanti dikira ingin konser, batin Yopi.
           Tiba dirumah Adel, Yopi merasa canggung. Entah kenapa ada yang kurang saat Emon dan Fandy tidak bersamanya.
        Adel senang dengan kedatangan Yopi karena sedikit-sedikit Yopi bisa main piano. Adel meminta agar Yopi sering main kerumahnya.
            Disekolah Yopi berpura-pura bahagia saat menceritakan usaha pedekatenya. Padahal dalam hatinya sudah tidak ada lagi niat untuk meraih hati Adel.
            Seminggu berlalu, sore ini adalah jadwal Yopi main kerumah Adel, tetapi Yopi malah pergi ke lapangan basket sekolah tempat favorit tiga sekawan berkumpul. Saat Yopi memantul-mantulkan bola dengan lesu, dia melihat Emon dan Fandy dari kejauhan datang mendekat.
            “Eh, Yop! Sekarang kan jadwal kamu kerumah Adel, kenapa malah disini?” tanya Fandy.
            “Kalian sendiri ngapain disini? Mau main basket? Kok tidak ngajak-ngajak aku?”
       “Kamu gimana sih, tidak mungkin dong kita mengganggu jadwal pedekate kamu,” kata Emon.
           “Aku tidak mau pedekate lagi, soal pacaran nanti dulu deh. Buat aku main sama kalian jauh lebih seru daripada main kerumah Adel.”
            Emon dan Fandy saling pandang. “Kok sama?” ucap mereka. Yopi bengong.
          “Kita juga ngerasain hal yang sama seperti kamu. Aku dan Emon merasa kebersamaan kita jauh berkurang gara-gara kepotong jadwal kerumah Adel.
          “Tapi aku punya ide yang oke punya,” ujar Yopi. “Mending jadwalnya kita mian kerumah Adel bareng, oke?”
         “Oke banget!” sambut Fandy. “Kita bikin kelompok belajar biar bisa ketularan pintarnya Adel.”
            “Sekali-kali kita ajak Adel main basket juga, pasti dia mau,” tambah Emon.
            “Tentu saja” kata Yopi.

****


Oleh      :    Fita Apriana